Jelang Final Piala Dunia, Belajar Tiki-Taka Kehidupan dari The Best Collective Team
Oleh : Hadi SantosoKetua DPW PKS Jawa TengahHawa di gang sempit kawasan Pedurungan, Semarang Timur, beberapa hari ini rasanya beda banget. Tetangga yang biasanya pusing ngobrolin harga sembako, atau hawa panas situasi politik, mendadak berubah jadi pundit dadakan kelas dunia. Topiknya cuma satu: Final Piala Dunia Spanyol vs Argentina dini hari nanti. Demam bola ini sukses menembus sekat-sekat kampung.
Sayang banget rasanya kalau momen adu gengsi sekelas final ini cuma dilewatkan sendirian. Apalagi kalau cuma kemulan sarung sambil dipatok nyamuk di depan jadul.
Makanya, ketimbang nglangut (melamun) sendirian di rumah, DPW PKS Jateng sengaja buka markas lebar-lebar. Kita menggelar acara Nobar Final Piala Dunia bareng warga. Langsung saja gas merapat ke Jalan Kelud Raya No 46, Semarang. Kita gelar tiker, sediakan wedangan, sambil bedah taktik ala pelatih beneran.
Kalau boleh jujur, mataku sejak awal turnamen sudah tertuju ke La Furia Roja. Jelang laga puncak ini, aku melihat Spanyol tampil elegan sebagai The Best Collective Team. Skill antarlini mereka solidnya minta ampun. Pelatihnya juga brilian meramu taktik, bikin tiki-taka modern kembali jadi senjata pamungkas yang asyik ditonton.
Memang sih, mereka punya bocah ajaib bernama Lamine Yamal yang kini jadi idola baru sepak bola. Mainnya ngedap-edapi (luar biasa menakutkan lawan), padahal umurnya baru belasan tahun.
Tapi, kehebatan tim Matador ini bukan sekadar menumpang di pundak satu dua orang saja. Kolektivitas tim tetap tegak berdiri jauh lebih utama dari sekadar rekor personal seorang Yamal. Sepak bola itu hakikatnya dimainkan sebelas orang yang nafasnya harus seirama. Bukan layaknya fenomena lapangan hijau belakangan ini yang kesannya personal minded banget.
Coba kita lirik sejenak kelakuan pemain-pemain top di luaran sana. Ada CR7 yang seolah selalu ingin jadi pusat tata surya. Belum lagi sang diktator Mbappe, sang robot mesin gol Erling Haaland, atau sang predator spesialis Runner-Up Harry Kane.
Mereka ini memang jagoan secara individu, tapi kalau kata orang Jawa, kadang kelihatan kemaki (sombong). Pemain sehebat apapun pasti klenger (pingsan kelelahan) kalau main tanpa nyawa kebersamaan tim.
Kekuatan jamaah Spanyol ini terbukti sahih dari rekor pertahanan mereka. Gawang yang dijaga Unai Simon sukses mencatatkan rekor personal 650 menit main tanpa kebobolan, dengan total 6 kali clean sheet. Secara keseluruhan, tim ini baru kemasukan satu gol saja. Hebatnya, mereka meraih ketangguhan ini tanpa harus merusak keindahan permainan.
Fokus penekanan taktik mereka sama sekali bukan Parkir Bus ala sepak bola Italia jadul. Spanyol menolak main pragmatis kayak Inter Milan era Jose Mourinho di Final Liga Champion. Mereka juga enggan meniru gaya bertahan rapat Maroko di Piala Dunia 2022, atau Kosta Rika 2014 ala Jorge Luis Pinto. Filosofi mereka sangat berani: pertahanan terbaik adalah bersikap disiplin, terus mendominasi penguasaan bola, dan melancarkan serangan.
Tiki-taka modern ini lho yang sebenarnya sangat relate dengan denyut kehidupan masyarakat kita sehari-hari. Dalam menghadapi susahnya realita hidup, kita nggak bisa cuma pasif parkir bus, diam menunggu nasib sambil menyalahkan keadaan. Kita juga tidak bisa terus-terusan mengandalkan satu “striker” alias tokoh pahlawan kesiangan yang kadang cuma pintar obral pesona.
Bangsa ini butuh kolektivitas tingkat tinggi. Kalau ada kawan di sebelah yang posisinya lagi kosong atau usahanya terpuruk, kita yang sedang pegang bola kehidupan harus sigap ngoper dukungan. Kita wajib saling menutup celah kekurangan satu sama lain.
Kerja kolektif itu layaknya merapatkan shaf shalat berjamaah; harus lurus, rapat, dan membuang ego pribadi. Itulah wujud nyata dari ukhuwah dan gotong royong sejati.
Akankah Spanyol mampu mengulangi sukses tahun 2010 silam dengan gaya kolektif yang menawan ini? Mari kita saksikan pembuktiannya bareng-bareng di layar lebar dinihari nanti
Satu hal yang pasti, apapun hasil akhir pertandingannya besok pagi, bumi tetap berputar pada porosnya. Nggak perlu terlalu spaneng (tegang) memikirkan urusan dunia yang seringnya memang di luar kendali kita. Obah bareng, mulyo bareng (bergerak bersama, sejahtera bersama).
Mending sekarang siap-siap kumpul nobar final piala dunia dan ngopi seduluran. Habis itu besok pagi kita bangun menunaikan salat subuh jamaah, lalu kembali melangkah menjemput rezeki dengan senyum paling lebar.
Sampai jumpa di Jalan Kelud Raya!